9 Jam Mulazamah Yang Membahagiakan

“Alhamdulillaaaah…!”

Kalimat itu kompak disuarakan oleh Taka, Haikal dan Insan di dalam mobil. Itu menjawab ucapan saya, “Gini, sebenarnya setelah pengajian di Masjid Al Hidayah Jamang Maduran ini kita langsung balik ke Pondok. Berganti peserta mulazamah yang lain untuk berangkat ke masjid NAMIRA. Tapi mengingat ini waktunya sudah mepet maghrib, maka kita langsung ke Masjid NAMIRA.”

Usai pengajian pertama, lanjut dengan acara makan-makan bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pangkatrejo dengan menu yang sangat menggiurkan. Semua santri makan dengan lahap. Setelah itu, ada undangan lagi mampir di rumah salah seorang Kyai. Santri menyantap aneka buah-buahan yang sudah disiapkan oleh Bu Nyai di meja tamu.

Saat perjananan menuju Kota Lamongan, Haikal bilang, “Fa biayyi aalaa’i Robbikuma tukadzdzibaan…” Sebagai bukti kalau dirinya dan seisi mobil sedang menerima banyak kebahagiaan. Di jalan terlihat genangan air tanda seusai hujan lebat, Taka langsung bilang, “Suasana jadi adem sesejuk hatiku hari ini.” Suit suiiiiit.

Dari Maduran menuju Kota Lamongan kita melintasi jalur menuju Babat dulu yang kondisi jalannya bergelombang. Merasakan goncangan mobil, Insan komen, “Goncangan ini semakin membuat indah hari ini.”

Kita singgah untuk shalat maghrib di masjid Ki Bagus Hadikusumo Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA). Masjidnya bagus dengan arsitektur ala Turkiye, tilawah imamnya merdu, sound systemnya terdengar enak. Semuanya menambah suasana kebatinan santri semakin membuncah.

Sampai di Masjid NAMIRA dengan selamat. Dan karena waktu isya masih cukup lama, para santri berjalan-jalan menikmati panorama indah di sekitar masjid. Sebuah pemandangan yang membuat mereka takjub, sebab memang ini kali pertama mereka mulazamah di tempat ini.

Usai shalat berjamaah isya’ dengan Imam Ustadz Haris yang dikenal dengan suara tilawahnya yang merdu dan menggelegar, santri berbaur dengan jamaah yang berjumlah 600an orang untuk mengikuti pengajian tafsir surat Al Fath ayat 28.

Setelah mengajian dan bersalaman dengan banyak jamaah, kami diundang untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan di ruang dalam. Bersama dengan para pengurus Takmir Masjid NAMIRA – juga dibersamai oleh Haji Helmy Reza – para santri menikmati makan malam dengan menu yang pasti enaaak. Nasi putih, lauk ayam kare, soto daging, timun mas, gorengan dll. Di ruang yang berAC dan bersama dengan orang-orang besar…..Sungguh pengalaman yang bisa jadi tidak terulang lagi….heeeemmmm.

Menjelang pulang, kami berfoto ria dulu di ruang utama masjid yang baunya harum sekali. Tapi pas lagi bergaya, belum dijepret, terdengar panggilan dari Pak Haji Helmy Reza, orang nomor wahid di NAMIRA, “Ustadz, kita berfoto di dalam aja, saya ambilkan kuncinya.” Ternyata kita di ajak berfoto dengan beliau di ruang dalam kaca (bukan ikan hias di dalam aquarium loh ya he he he). Tidak semua orang, bisa berfoto di ruang kaca ini. Apa lagi bersama beliau itu…. Terbayang kaaan, bagaimana suasana hati Taka, Haikal dan Insan……pasti seperti dalam mimpi indah he he he…

Sepanjang perjalanan pulang, hati senang, senyum merekah, ditambah masih ada bingkisan oleh-oleh di jok mobil bagian belakang, perut kenyang……

Akhirnya…mulai pertigaan Deket sampai gerbang Refah, mereka tertidur pulas…..sengaja tidak saya bangunkan…sebab barangkali mereka sedang bermimpi indah….sedang berjalan-jalan di surga Firdaus, mengamati indahnya istana yang dikelilingi pohon-pohon rindang, taman bunga yang sedang mekar serta bau wanginya yang tidak ada di dunia….

Bangun…bangun….bangun…..kita sudah sampai….

Fa bi ayyi aalaa’i Robbikumaa tukadzdzibaan… (Fa)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *