Buka Puasa Pertama di Pondok Refah Islami

Hari ini, menjelang pukul 5 sore WIB, satu persatu santri berjalan menuju masjid. Bersarung rapi, berbaju klimis, berkopyah hitam, sambil membawa mushaf, lengkap dg buku kecil di saku; al ma’tsurat. Termasuk ada lembaran al azdkar yg diselipkan di sela lipatan kopyah…Pokoknya lebih ngganteng dari biasanya di rumah he he he… Langkahnya penuh semangat, wajahnya terlihat sumringah, menuju satu acara paling ditunggu-tunggu…buka puasa.

Pukul 5 sore, semua pintu masjid Refah yg ber-AC ditutup dan sejurus kemudian, gema dzikir al ma’tsurat memenuhi setiap sudut ruangan sampai merasuk ke relung2 sanubari, hingga tembus ke teras sebab pakai pengeras suara… Nampak beberapa santri kls 9 baru hadir ke masjid…mereka bukan terlambat, tapi mereka ada piket membersihkan kamar mandi, memang kebersihan kamar mandi harga mati…

Sepuluh kali enampuluh detik menuju maghrib, dzikir selesai, terlihat santri MA sibuk melayani adik-adiknya yang sudah duduk rapi di shaf. Tidak lama kemudian, di hadapan masing-masing santri sudah tersedia menu takjil sore ini; teh tarik hangat ala Malaysia, ote2 jumbo, kue basah dan air mineral.* Heeemmmmm nikmatnya sampai di ubun-ubun….

Saat Ananda Ilyas kls 9 mengumandangkan adzan maghrib, tanpa dikomando lagi, para santri langsung menyantap apa yg tersedia sampai habis bis…hanya jatah ustadz-ustadz yg masih tersisa…

Dalam sekejap, masjid disapu bersih oleh Mas Zami sebab shalat maghrib segera dimulai. Usai salam shalat maghrib, semua tangan kanan menuju ke arah yg sama, mengambil kertas al adzkar di dalam lipatan kopyah hitam di atas kepala dan dilanjut dengan shalat ba’diyah, tanpa kecuali. Setelahnya….he he he menuju math’am untuk menyempurnakan rukun buka puasa, yaitu: makan malam. Menu kali ini adalah; soto ayam yang masih hangat, krupuk uyel, sambel bagi yang minat, risoles dan teh manis anget plus buah melon yang tinggal llebb….Hemmmm nikmat Tuhan yg manakah yg kau dustakan….kalo sudah begini….

Usai makan dan cuci piring, gelas, sendok milik masing-masing, masih ada waktu utk berbincang santai dg teman sambil berkenalan secukupnya.

Sepulu menit sebelum adzan isya, pintu masjid sudah ditutup sbb ruangan ber-AC dan semua santri sudah di dalam. Tinggal Pak Satpam dan seorang musyrif yg di luar. Lanjut; shalat sunah, shalat isya, wirid, shalat ba’diyah, dan mereka tetap duduk di tempat utk menanti taushiyah.

Dalam taushiyah, saya sampaikan bahwa al yadul ‘ulya khoirun minal yadis sufla (tangan di atas itu lebih mulia dari pada tangan di bawah). Jadi, diantara akhlaq ulama adalah dermawan. Sesama teman kita harus saling memberi, saling menolong, saling menawarkan bantuan, tanpa menunggu orang lain meminta bantuan. Jangan membiasakan diri suka meminta, apalagi minta makanan kepada teman. Ulama tidak boleh bermental pengemis. Tapi ulama harus bermental memberi.

Taushiyah ini rutin, sehingga tidak lama waktunya. Tapi, ini hanya utk santri loh ya, wali santrinya tidak boleh ikut hadir…he he he.

Usai taushiyah, santri-santri biasanya mengantri utk salaman, tapi utk saat ini, sdh saya bilangi, sementara tdk usah salaman dulu… selain berhati-hati mengingat masih pandemi, juga kalo semua bersalaman ya agenda berikutnya akan terganggu…Tapi masih ada juga yg menghadang saya dan minta salaman….ya gmn lagi…

Selanjutnya, masing2 santri mengambil mushaf di rak dan kembali ke shaf semula untuk membaca bersama surat Al Kahfi di malam Jumat ini.

Jika seperti itu keseharian anak-anak kita saat di Refah, maka yg dibutuhkan dari para wali adalah; doa. Doakan agar para ustadz sehat dan istiqomah. Doakan agar seluruh santri sehat dan sabar…Selebihnya, biar Allah yg mengurusnya…

Obat rindu buat ortu.

(Farid Dhofir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *